Dipicu Isu Korupsi dan Ketimpangan, Gen Z Madagaskar Berhasil Lengserkan Presidennya, Pemerintahan Dikuasi Militer Saat Ini

banner 468x60

CARAPOLITIK.COM | Krisis politik di Madagaskar meledak ke titik balik.

 

Presiden Andry Rajoelina tumbang setelah parlemen memakzulkannya, diikuti aksi militer yang langsung mengambil alih kendali negara.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

 

Rajoelina dikabarkan melarikan diri dari ibu kota dan meninggalkan negara, sementara gelombang unjukrasa kaum muda Gen Z menjadi pemicu utama kejatuhannya.

 

Berdasarkan laporan Reuters, Kolonel Michael Randrianirina, komandan pasukan elite CAPSAT, mengumumkan lewat siaran nasional bahwa militer kini memegang kekuasaan penuh.

 

Ia menyatakan seluruh lembaga negara dibubarkan, kecuali Majelis Nasional yang masih diizinkan berfungsi.

 

“Militer telah mengambil alih kekuasaan,” ujarnya sebagaimana dikutip carapolitik.com, Rabu 15 Oktober 2025/22 Rabiul Akhir 1447 H.

 

Randrianirina menambahkan, pemerintahan sementara akan dibentuk dan dijalankan oleh komite militer bersama kabinet transisi selama maksimal dua tahun, sebelum pemilu baru diselenggarakan.

 

Langkah drastis itu diikuti pembekuan lembaga-lembaga utama, seperti Senat, Mahkamah Konstitusi, Komisi Pemilihan Umum Nasional, Mahkamah Agung, dan Dewan Hak Asasi Manusia.

 

Rajoelina Lari dari Negeri Sendiri

Ironisnya, Rajoelina sendiri pernah naik ke tampuk kekuasaan melalui kudeta pada 2009.

 

Kini, sejarah berbalik menelannya. Ia sempat mencoba membubarkan parlemen dengan dekrit, namun gagal karena mayoritas anggota, termasuk dari partainya sendiri, memilih untuk memakzulkannya.

 

Menurut laporan Reuters, Rajoelina meninggalkan negara menggunakan pesawat militer Prancis pada Minggu malam setelah mengaku mendapat ancaman terhadap keselamatannya.

 

“Saya harus mengamankan diri dari ancaman terhadap nyawa saya,” katanya dalam pidato terakhir sebelum menghilang.

 

Kaum Muda Mengguncang Sistem Lama

Gelombang protes dimulai akhir September, dipicu krisis air dan listrik, namun berkembang cepat menjadi pemberontakan sosial yang menuntut perubahan total.

 

Isu korupsi, ketimpangan, dan buruknya tata kelola pemerintahan menjadi bahan bakar kemarahan publik.

 

Lapangan 13 Mei di ibu kota Antananarivo menjadi pusat aksi.

 

Ribuan massa berkumpul, membawa bendera Madagaskar dan simbol tengkorak-tulang dari anime One Piece — ikon khas gerakan Gen Z.

 

Mereka menuding Rajoelina sebagai “boneka Prancis” karena status kewarganegaraan gandanya dan dukungan dari bekas penjajah.

 

Negara di Ujung Jurang Ekonomi

Krisis politik ini makin menelanjangi rapuhnya ekonomi Madagaskar.

 

Negara berpenduduk sekitar 30 juta jiwa ini memiliki tiga perempat warga hidup di bawah garis kemiskinan, dengan usia rata-rata penduduk di bawah 20 tahun.

 

Data Bank Dunia menunjukkan, pendapatan per kapita Madagaskar anjlok hingga 45 persen sejak kemerdekaan tahun 1960.

 

Unit CAPSAT — pasukan elite yang dulu jadi tulang punggung kudeta 2009 — kini juga membelot dari Rajoelina dan menolak menindak demonstran. Polisi dan gendarmerie ikut pecah barisan.

 

Kudeta ini menegaskan satu hal: kekuatan politik baru di era digital sedang bergerak — dan kali ini, Gen Z jadi penggeraknya.[]

 

(Gambar: suasana unjukrasa Gen Z Madagaskar yang berhasil gulingkan presidennya | tangkapan layar video Reuters)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60