Jokowi dijadwalkan hadir dan menjadi narasumber utama dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 29–31 Januari 2026 atau bertepatan dengan 9–11 Rajab 1447 Hijriah.
CARAPOLITIK.COM | Kehadiran Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam Rakernas I PSI disiapkan secara khusus dengan panggung tersendiri. Jokowi ditempatkan sebagai narasumber utama dalam forum strategis partai berlambang Gajah tersebut.
Penegasan ini disampaikan Ketua DPP PSI Bidang Politik, Bestari Barus. Ia menyebut Jokowi ditempatkan sebagai patron dan suri teladan politik bagi PSI, sekaligus figur sentral yang memberi arah ideologis dan strategis partai.
Rakernas I PSI digelar di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, dengan melibatkan jajaran pengurus pusat dan daerah PSI dari seluruh Indonesia.
Agenda Rakernas berlangsung pada 29–31 Januari 2026, bertepatan dengan 9–11 Rajab 1447 Hijriah. Pernyataan Bestari Barus disampaikan pada Senin, 26 Januari 2026.
Penempatan Jokowi di panggung utama dinilai sebagai simbol politik yang tidak netral. PSI secara terbuka mengafirmasi Jokowi sebagai patron, menyusul pernyataan Jokowi dalam Kongres PSI di Solo yang menyatakan dukungan penuh terhadap PSI di Pemilu 2029.
Bestari menegaskan, pernyataan Jokowi tersebut memiliki bobot politik tinggi.
“Saya akan mendukung full PSI. Dan saya akan bekerja keras untuk PSI,” kata Jokowi, yang menurut PSI belum pernah diucapkan bahkan saat masih menjabat Presiden.
Mengutip tribunnews,com, Bestari menjelaskan bahwa Jokowi tidak serta-merta diumumkan sebagai kader atau pejabat struktural PSI. Alasannya, PSI masih menyelesaikan pembentukan struktur kepengurusan dari tingkat ranting hingga DPP.
“Meletakkan Pak Jokowi pada posisi yang sangat terhormat sebagai Patron daripada organisasi kami ini,” ujar Bestari.
Ia juga menepis isu bahwa Jokowi akan diumumkan sebagai Ketua Dewan Pembina PSI dalam Rakernas Makassar.
“Panggung Pak Jokowi ini sebagai narasumber utama di Rakernas,” tegasnya.
Panggung khusus bagi Jokowi menunjukkan PSI sedang mengunci identitas politiknya secara terbuka. Tidak lagi sekadar diasosiasikan, PSI kini memformalkan Jokowi sebagai patron moral dan politik, meski tanpa jabatan struktural. Ini adalah konsolidasi simbolik yang kuat menjelang Pemilu 2029.
Langkah PSI juga mencerminkan realitas politik pasca-kekuasaan. Jokowi, meski tidak lagi Presiden, tetap menjadi magnet elektoral. Dengan menjadikannya patron, PSI berupaya mengamankan legitimasi politik, akses jaringan, dan kontinuitas kekuasaan di luar struktur formal negara.
Panggung khusus Jokowi di Rakernas PSI bukan sekadar forum diskusi, melainkan penegasan arah politik. Di tengah lanskap politik yang cair, PSI memilih terang: menjadikan Jokowi sebagai rujukan utama. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Jokowi di balik PSI, melainkan sejauh mana PSI siap menanggung konsekuensi politik dari pilihan itu.[]















