CARAPOLITIK.COM | Gejolak pasar yang berujung pada trading halt Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama dua hari berturut-turut bukan hanya mengguncang investor, tetapi juga menggoyang pucuk kepemimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI). Keputusan Direktur Utama BEI Iman Rahman untuk mengundurkan diri dinilai sebagai langkah langka yang sarat makna politik ekonomi.
Apresiasi itu datang dari Anggota Komisi XI DPR RI, M. Hasanuddin Wahid, yang menilai pengunduran diri tersebut sebagai wujud tanggung jawab di tengah tekanan pasar yang luar biasa.
DPR: Ini Sikap Gentle, Bukan Lari dari Masalah
Politisi yang akrab disapa Cak Udin itu menyebut keputusan Iman Rahman sebagai sikap kenegarawanan yang patut dihormati, bukan sekadar respons administratif atas kegagalan mengendalikan situasi pasar.
“Itulah wujud tanggung jawab. Saya betul-betul hormat dengan sikap gentle Pak Dirut Iman dalam menyikapi gejolak pasar yang terjadi,” ujar Cak Udin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (30/01/2026 M / 10 Rajab 1447 H).
Menurutnya, dalam ekosistem pasar modal, kepercayaan adalah mata uang utama. Ketika IHSG harus dihentikan perdagangannya, alarm kepercayaan itu berbunyi nyaring.
IHSG Cermin Ekonomi Bangsa
Cak Udin menegaskan bahwa IHSG bukan hanya indikator teknis pasar saham, melainkan tolok ukur psikologis dan ekonomi yang mencerminkan persepsi dunia terhadap stabilitas Indonesia.
“IHSG itu wajah perekonomian nasional. Bukan hanya berdampak ke investor dalam negeri, tapi juga menjadi cermin kepercayaan pasar internasional terhadap Indonesia,” tegasnya.
Karena itu, kata dia, stabilitas dan kredibilitas BEI tidak boleh dikelola secara biasa-biasa saja. Trading halt yang terjadi dua hari berturut-turut menunjukkan ada masalah serius, baik dari sisi tata kelola, komunikasi pasar, maupun mitigasi risiko.
Di tengah kekosongan kepemimpinan BEI, Cak Udin memberi penekanan keras soal sosok pengganti Dirut. DPR, kata dia, tidak ingin jabatan strategis ini diisi sekadar untuk menutup krisis sementara.
“Kami berharap pengganti Pak Iman adalah figur yang lebih profesional, berintegritas, dan mampu menjaga stabilitas BEI, baik di mata nasional maupun internasional,” ujarnya.
Menurutnya, bursa efek adalah etalase ekonomi Indonesia di hadapan dunia. Kesalahan membaca situasi global, keterlambatan respons, atau miskomunikasi kebijakan bisa langsung berdampak pada arus modal asing.
Pasar Bereaksi Brutal
Cak Udin juga menyinggung pentingnya gaya kepemimpinan yang kuat dan komunikatif. Dalam kondisi pasar yang sensitif, kepemimpinan BEI dituntut bukan hanya paham teknis, tetapi juga piawai membaca dinamika global.
Ia mengingatkan agar kejadian trading halt berkepanjangan tidak kembali terulang karena berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap pasar modal nasional.
“Ke depan dibutuhkan kepemimpinan yang kuat, komunikatif, dan mampu membaca dinamika global agar kepercayaan pasar tidak terkikis,” katanya.
Pengunduran diri Dirut BEI di tengah krisis IHSG mengirim pesan penting: pasar modal tidak kebal terhadap akuntabilitas. Langkah ini sekaligus menjadi preseden bahwa kegagalan menjaga stabilitas bukan hanya berdampak teknis, tetapi juga politis.
Trading halt dua hari berturut-turut menandakan adanya kegagalan kolektif dalam manajemen ekspektasi pasar. Di titik inilah, mundurnya Dirut BEI menjadi semacam “katup pengaman” untuk meredam krisis kepercayaan yang lebih besar.
Namun persoalan tidak selesai di sana. Tantangan sesungguhnya ada pada siapa yang akan mengisi kursi Dirut BEI selanjutnya. Jika figur pengganti tidak memiliki kapasitas, integritas, dan keberanian mengambil keputusan cepat, maka gejolak serupa hanya tinggal menunggu waktu.
Bagi DPR, khususnya Komisi XI, episode ini menjadi pengingat bahwa pengawasan sektor keuangan tidak boleh lengah. Pasar modal bergerak cepat, dan kesalahan kecil bisa berdampak sistemik.[]







