Carapilitik.com Jakarta — Fenomena pengibaran bendera bajak laut “One Piece” yang identik dengan simbol tengkorak bertopi jerami, Jolly Roger milik kelompok Straw Hat Pirates, kini menjadi perbincangan hangat.
Di Indonesia, pengamat sosial Agus Partono menilai gerakan ini bukan sekadar ekspresi fandom, melainkan bisa menjadi medium persatuan generasi muda.
“Kehebatan seseorang yang memunculkan ide pengibaran bendera One Piece di era 2025 ini patut kita jadikan guru. Gagasan sederhana namun mampu menyatukan anak muda di berbagai pelosok negeri,” ujarnya.
Menurut Agus, gerakan ini membuktikan bahwa simbol budaya populer bisa melampaui sekadar hiburan. “Ini seharusnya menjadi ilmu bagi generasi bangsa: bagaimana sebuah gagasan mampu menular dan menyatukan rakyat,” tambahnya, Jakarta 11 September 2025.
Fenomena serupa juga mengguncang Nepal. Gelombang protes besar-besaran di Kathmandu, Pokhara, hingga kota-kota lain di negara tersebut bukan hanya menyoroti isu sensor internet, korupsi, serta kepemimpinan Perdana Menteri K.P. Sharma Oli. Lebih dari itu, perhatian dunia tersedot pada simbol yang dipilih massa: bendera One Piece.
Bendera tersebut berkibar di jalanan sebagai tanda perlawanan, menjadikannya ikon solidaritas anak muda. Simbol dari karya manga dan anime ciptaan Eiichiro Oda itu kini berubah menjadi representasi harapan, keberanian, sekaligus kebebasan berekspresi.
Meski ramai diperdebatkan siapa yang pertama kali mempopulerkan gerakan pengibaran bendera ini, satu hal jelas: dari Indonesia hingga Nepal, bendera One Piece kini telah menjadi lebih dari sekadar lambang fiksi. Ia telah menjelma menjadi ikon budaya global yang mempersatukan suara generasi muda.






