KETIKA menteri baru menguasai panggung, aktor lama tak selalu harus diam.
Kadang cukup menempel pada narasi yang sedang naik—seperti yang dilakukan Qodari untuk menghidupkan kembali brand Ara.
Dalam lanskap politik-ekonomi yang bergerak cepat, siapa yang menguasai narasi publik kerap lebih berpengaruh.
Hal ini tampak jelas ketika Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia, Muhammad Qodari, menyinggung Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa dan membandingkannya dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Republik Indonesia, Maruarar Sirait (Ara).
“Jadi sebetulnya saya mau mengatakan Pak Purbaya memang pintar tetapi sebetulnya Pak Purbaya keduluan oleh Pak Ara karena Pak Ara sudah ngambil duluan program seperti itu (menggunakan uang dari BI untuk masyarakat),” kata Qodari dalam video viral baru-baru ini.
Sekilas, pernyataan Qodari tampak seperti pujian bagi Menteri Purbaya: sosok “koboy ekonomi” yang berani “injak gas” fiskal setelah Indonesia terlalu lama dianggap “nginjak rem”.
Qodari sebenarnya sedang memainkan strategi komunikasi politik yang dalam bahasa sederhana adalah “menunggang gelombang popularitas orang lain.”
Saat ini, Purbaya Effect memang terus menguat dengan keberaniannya dalam bicara dan bertindak ala koboy.
Dalam opini singkatnya, Qodari mengatakan,
“Purbaya pintar, tapi Ara sudah duluan.”
Kalimat ini tampak sederhana, tapi secara komunikasi politik sangat efektif.
Purbaya sedang naik daun—menjadi simbol semangat baru fiskal Indonesia.
Dengan menempelkan nama Ara dalam konteks yang sama, Qodari otomatis mentransfer citra positif dari Purbaya ke Ara.
Secara psikologis, publik akan mengasosiasikan keduanya sebagai figur dengan visi serupa: progresif, berani, dan pro-rakyat.
Itulah inti dari strategi ini—membangun brand dengan menempel pada figur yang sedang viral.
Qodari tahu, dalam politik, jarak waktu tanpa eksposur bisa berbahaya.
Ara—yang dulu sempat dikenal sebagai politisi cerdas, loyal, kaya dan dermawan—mulai redup akhir-akhir ini.
Maka, dengan menempatkan Ara di narasi yang sama dengan Purbaya, Qodari membantu menghidupkan kembali relevansi politik Ara, tanpa perlu panggung baru.
Dan yang menarik: Qodari tidak mengadu keduanya.
Ia justru menegaskan bahwa keduanya berpikir searah.
Dengan begitu, tidak ada gesekan antar elite, tapi tetap ada transfer spotlight.
Cerdas, halus, dan penuh kalkulasi.
Secara halus, Qodari menciptakan hierarki simbolik:
- Ara digambarkan sebagai pionir ide ekonomi ekspansif,
- Purbaya sebagai pelanjut dan penyempurna.
Artinya, publik diajak percaya bahwa Ara sudah visioner sejak awal, hanya saja kini ada Purbaya yang mengeksekusinya lebih besar.
Sebuah framing elegan untuk menjaga martabat politik sekaligus memperpanjang nafas brand Ara.
Qodari bukan sekadar KSP, Ia sedang menjadi Mirror Maker (pembuat cermin politik), tempat publik memantulkan kembali citra para menteri.
Dalam kasus ini, Ia berhasil menciptakan persepsi bahwa:
- Pemerintah tetap satu irama,
- Kebijakan ekonomi tetap berkesinambungan,
- Dan tokoh-tokoh lamanya masih punya tempat dalam narasi baru.
Atau singkatnya:
“Qodari sedang menunggang gelombang popularitas Purbaya untuk mengapungkan kembali perahu Ara.”
Oleh:
GusDus Torus Indonesia















