Strategi investasi Danantara ke negara nonblok dinilai bisa memperkuat posisi geopolitik Indonesia sekaligus melatih generasi muda di bidang AI dan fintech.
CARAPOLITIK.COM | Ide segar muncul dari Laksamana Pertama TNI Arif Badrudin. Ia mengusulkan arah baru dalam kebijakan investasi global Indonesia.
Ia menyoroti pentingnya memanfaatkan Danantara, lembaga strategis yang dibentuk Presiden RI, sebagai instrumen untuk memperkuat kepemimpinan geopolitik Indonesia di tengah dunia yang kian terpolarisasi.
“Kami telah menerima banyak arahan dari menteri-menteri kabinet ada beberapa hal yang bisa kami usulkan. Kami belajar geopolitik di Lemhanas, kami berharap agar kepemimpinan Geopolitik Indonesia bisa kembali memimpin di dunia yang saat ini sedang terpolarisasi dengan memanfaatkan Danantara yang saat ini sudah dibentuk oleh Presiden RI,” kata Laksamana Pertama TNI Arif Badrudin, sebagaimana dikutip Carpol dari video IG akhwatriau1945_official, Minggu, 19 Oktober 2025/26 Rabiul Akhir 1447 H.
Menurutnya, 20 persen dana Danantara yang diinvestasikan ke luar negeri sebaiknya diarahkan ke negara-negara nonblok dalam bentuk investasi teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Untuk itu kami menyarankan agar investasinya ini ditempatkan di negara-negara nonblok dalam bentuk teknologi AI, kebetulan saya S3-nya tentang AI. Sehingga kita bisa menyiapkan generasi muda kita yang merupakan bond demografi Indonesia, dilatih tentang AI, dilatih tentang Fintech kemudian mereka membuka industri-industri startup di negara-negara nonblok itu dengan memanfaatkan QRIS kita,” jelasnya.
Ia menegaskan, penguatan kapasitas generasi muda dalam bidang AI dan Fintech adalah bagian dari strategi besar Indonesia agar tidak sekadar menjadi pasar, tapi pemain utama di ekonomi digital global.
“Untuk touchup kami adalah model pelatihan AI yang telah kami terapkan di beberapa instansi terutama di Angkatan Laut dan hasilnya cukup menggembirakan, ada yang menjadi juara nasional bahkan ada yang menjadi juara dunia di Singapura,” tambahnya.
Dalam pandangannya, strategi ini bukan hanya tentang ekonomi digital, tapi juga cara politik baru untuk mengembalikan posisi Indonesia sebagai poros utama dunia nonblok, seperti era Soekarno.
“Harapan kami kepemimpinan geopolitik Indonesia bisa kembali diraih. Zaman dulu Presiden Soekarno tidak pakai uang bisa jadi pemimpin nonblok, kita sekarang memiliki Presiden Prabowo, memiliki Wapres Gibran, memiliki Danantara, saya yakin kita Indonesia akan kembali menjadi pemimpin Non Blok,” tutupnya.
Gagasan ini menggabungkan investasi strategis, teknologi, dan diplomasi geopolitik untuk mengembalikan peran global Indonesia.
Gurindam.id pernah memuat bahwa Laksamana Pertama TNI Arif Badrudin adalah kalangan peserta Program Pembekalan Pimpinan Lemhannas (P3N XXV dan P4N LXVIII) Tahun 2025.
Ia merupakan salah satu Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) yang juga mantan Komandan Lanal Natuna serta eks Komandan KRI tercanggih KRI Frans Kaisiepo-368.[]















