CARAPOLITIK.COM | Presiden Prabowo Subianto melantik Jenderal (Hor) (Purn) Djamari Chaniago sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 17 September 2025/25 Rabiul Awal 1447 H.
Keputusan ini bukan sekadar reshuffle jilid III Kabinet Merah Putih, tapi bagian dari kalkulasi kekuasaan di tengah situasi politik nasional yang memanas dan jejak gelombang demonstrasi Agustus 2025.
Djamari Chaniago adalah purnawirawan TNI AD asal Padang, lahir 1949, lulusan Akabri Infanteri 1971.
Djamari pernah menjabat Pangdam III/Siliwangi, Pangkostrad, Wakasad, hingga Kasum TNI.
Namanya lekat dalam sejarah Dewan Kehormatan Perwira (DKP) 1998.
Kini Djamari menggantikan Budi Gunawan yang disingkirkan hanya sepekan sebelumnya.
Posisi Menko Polkam bukan kursi biasa, melainkan pusat kendali hubungan sipil-militer, koordinasi intelijen, dan penanganan kerusuhan sosial.
Dengan kata lain, kursi ini adalah jantung strategi negara dalam merespons instabilitas.
Djamari Dilantik di Istana Negara, 17 September 2025, hanya tiga pekan setelah unjuk rasa besar-besaran yang melanda Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, hingga Jayapura.
Reshuffle yang cepat ini menunjukkan Prabowo tak ingin sektor keamanan dibiarkan longgar.
Demonstrasi Agustus 2025 tidak main-main.
Data dari Komnas HAM dan KontraS mencatat: setidaknya 10 orang tewas, termasuk pengemudi ojek daring yang terlindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta, dan sebanyak 1.042 orang menderita luka-luka.
Korban berasal dari berbagai latar belakang: mahasiswa, buruh, pelajar, tukang becak, hingga staf DPRD.
Rakyat mereda setelah Presiden Prabowo muncul dan bicara.
Tapi amarah bisa kembali meledak, terlebih tuntutan belum sepenuhnya dijawab oleh negara.
Panasnya politik bukan hanya terjadi di dalam negeri. Sedikitnya 37 negara sedang panas saat-saat ini.
Dalam situasi semacam ini, Prabowo butuh figur dengan disiplin militer, pengalaman operasi, sekaligus loyalitas politik.
Penunjukan Djamari adalah konsolidasi politik melalui jalur keamanan, bukan sekadar perombakan birokrasi.
Penunjukan Djamari tak bisa dipisahkan dari gelombang unjuk rasa Agustus dan berbagai potensi gejolak, apapun sebab dan gejalanya.
Tugas Djamari ke depan bukanlah ringan. Tapi negara percaya.
“Ayo kita sama-sama perbaiki. Walau saya tahu kita sudah berusia sekian. Sisa umur itu kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan bangsa dan negara,” kata Dajamri menirukan pesan Prabowo pada dirinya.[]
(Foto: Djamari Chaniago (kiri) Prabowo Subianto (kanan) | Binti M/okezone)















