CARAPOLITIK.COM | Ada yang janggal di Istana Negara siang ini, Rabu, 17 September 2025/25 Rabiul Awal 1447 H.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak hadir dalam upacara pelantikan sejumlah menteri baru yang jelas-jelas menjadi panggung politik Presiden Prabowo Subianto.
“Beliau (Wapres Gibran) sedang di luar kota,” kata Mensesneg Prasetyo Hadi.
Pantauan carapolitik.com, Gibran berada di Papua.
Pertanyaannya: sekadar dinas atau sinyal politik?
Djamari dan SBY
Figur paling disorot adalah Jenderal (Hor) (Purn) Djamari Chaniago, yang resmi menjabat Menko Polkam.
Ia menggantikan Budi Gunawan yang disingkirkan dari kabinet sejak 8 September lalu.
Djamari bukan nama baru. Jejaknya panjang, termasuk saat duduk di Dewan Kehormatan Perwira (DKP) tahun 1998 bersama SBY.
Dengan menunjuk Djamari, Prabowo seperti menarik garis sejarah.
Ia merangkul jenderal tua yang pernah “kerja bareng” SBY di forum militer paling sensitif.
Langkah ini bukan hanya soal profesionalisme keamanan, tapi sinyal bahwa jalur komunikasi ke Cikeas sangat terbuka lebar.
Pelantikan Djamari adalah peta jalan politik.
Prabowo tahu, dengan menempatkan Djamari, Ia menegaskan kendali atas isu keamanan sekaligus membuka ruang akomodasi politik ke Cikeas.
Bagaimana dengan Gibran?
Disinilah spekulasi liar muncul. Absennya Gibran di panggung simbolis membuat rumor tentang reshuffle level tinggi semakin kencang.
Narasi “AHY masuk Istana” sebagai wapres mendatang makin tak bisa diabaikan.
Publik paham, politik tidak mengenal kebetulan: ketika Gibran tidak tampak, dan ketika Djamari–orang dekat orbit SBY–masuk, aroma trade off tercium kuat.
Bagaimanapun dalam arsitektur kekuasaan, setiap kursi adalah alat tawar.
Menyingkirkan BG, mengangkat Djamari, membuka ruang AHY, semuanya berjejaring pada satu hal: konsolidasi kekuatan menuju 2029.
Gibran boleh saja terpantau “sedang dinas”, tapi dalam politik, absensi sering lebih lantang daripada pidato.
Prabowo sedang menguji keseimbangan.
Ini bukan sekadar reshuffle, melainkan kalkulasi dingin: siapa yang tetap di lingkaran, siapa yang perlahan disingkirkan.
Pertanyaannya kini: apakah Gibran sekadar tidak hadir, atau sudah mulai “ditiadakan”?[]
(Foto: Tangkapan layar snack video)















