Sekolah Garuda: Politik Pendidikan dan Simbol Kekuasaan Era Prabowo

Ilustrasi siswa senang dan berprestasi | Freepik
Ilustrasi siswa senang dan berprestasi | Freepik
banner 468x60

CARAPOLITIK.COM | Pemerintah Prabowo-Gibran resmi mengenalkan Sekolah Garuda, program pendidikan unggul nasional yang menjadi bagian dari strategi besar membangun manusia Indonesia berdaya saing global.

Secara politik, di balik semangat pendidikan bisa tersimpan agenda politik yang jauh lebih tajam: meneguhkan kekuasaan melalui simbol dan sistem pendidikan.

Program ini diluncurkan serentak di 16 wilayah Indonesia pada Rabu, 8 Oktober 2025/14 Rabiul Akhir 1447 H.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Melalui dua skema utama — Sekolah Garuda Baru dan Sekolah Garuda Transformasi — pemerintah menargetkan berdirinya 100 sekolah unggul hingga 2029.

Proyek ini di bawah kendali Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto.

Garuda adalah Simbol

Kata “Garuda” dalam program ini tidak bisa dipisahkan dari konteks politik Prabowo.

Garuda adalah lambang negara sekaligus simbol Partai Gerindra, partai yang mengantarkan Prabowo ke kursi presiden.

Menempelkan “Garuda” pada proyek pendidikan nasional berarti mematri simbol partai penguasa ke dalam narasi kenegaraan.

Secara politik, ini langkah halus tapi strategis. Ia memperkuat citra Prabowo sebagai pemimpin nasionalis, dan di saat bersamaan, memperluas jangkauan simbol Gerindra ke ruang publik paling steril sekalipun: dunia pendidikan.

Dimulai Dari Ruang Kelas

Sekolah Garuda bukan sekadar tempat belajar, melainkan pabrik pembentukan nilai dan ideologi.

Dengan model asrama, kurikulum sains-teknologi, dan pendekatan pengabdian masyarakat, pemerintah sedang membangun ekosistem untuk mencetak “Garuda-Garuda muda” — generasi yang nasionalis, disiplin, dan terhubung langsung dengan visi negara.

Pernyataan Menteri Brian Yuliarto seolah menegaskan itu.

“Sekolah Garuda ini kita siapkan untuk melahirkan para petarung; Garuda-Garuda muda yang lawannya bukan lagi sesama anak bangsa, tetapi negara lain,” ujarnya dalam publikasi resmi.

Dalam politik simbol, istilah “petarung” dan “Garuda” adalah bahasa khas Prabowo. Ia menyalurkan karakter politiknya ke dalam sistem pendidikan formal.

Pemerataan dan Politik Legitimasi

Empat lokasi Sekolah Garuda Baru — Belitung Timur, Timor Tengah Selatan, Konawe Selatan, dan Bulungan — bukan dipilih sembarangan.

Ini peta politik pemerataan yang menjangkau daerah 3T, seolah ingin menegaskan bahwa era Prabowo bukan era Jawa-sentris, tapi pembangunan yang menyentuh pinggiran.

Secara politis, langkah ini memperluas legitimasi kekuasaan: Prabowo bisa mengklaim bahwa pemerintahannya juga membangun kecerdasan bangsa dari wilayah paling tertinggal.

Dengan begitu, Sekolah Garuda menjadi alat konversi pembangunan menjadi kepercayaan politik.

Arena Pembuktian Menteri Baru

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi adalah ‘barang’ baru. Program Sekolah Garuda menjadi panggung pembuktian Brian Yuliarto sekaligus validasi bahwa restrukturisasi kabinet Prabowo bukan bagi-bagi jabatan, melainkan bagian dari perombakan arah kebijakan nasional.

Jika berhasil, Sekolah Garuda bisa mengangkat profil kementerian baru ini menjadi salah satu pilar utama warisan pemerintahan Prabowo.

Sekolah Garuda adalah politik pendidikan bergaya Prabowo — nasionalistik, simbolik, dan jangka panjang.

Ia memadukan simbol negara, simbol partai, dan misi pemerataan menjadi satu ekosistem kebijakan.

Melalui proyek ini, Prabowo bisa tidak hanya membangun sekolah, tapi mengabadikan ideologi di dalam sistem pendidikan.

Jika program ini berlanjut sukses hingga 2029, Sekolah Garuda akan tercatat bukan hanya sebagai proyek pendidikan unggul, tapi sebagai simbol politik paling canggih yang pernah dijalankan rezim pasca-reformasi.[]

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60