CARAPOLITIK.COM | Ucapan Presiden Prabowo Subianto di Munas PKS di Jakarta beberapa waktu lalu memberi sinyal politik.
Ia terang-terangan mengaku bahwa keberaniannya baru benar-benar muncul setelah bulan Agustus 2025.
“Kau perhatikan nggak? Baru setelah Agustus lah saya lebih berani tampil,” kata Prabowo sebagaimana dikutip carapolitik.com dari PKSTV, Jumat, 3 Oktober 2025/11 Rabiul Akhir 1447 H.
Ia pun tak menutup mata atas kelemahan pemerintahannya di awal.
“Terus terang aja, bulan-bulan pertama pemerintahan komunikasinya kurang. Saya akui itu. Karena kita lagi kerja. Kita komunikasi sering, bicara yang baik-baik tapi hasilnya nggak ada, malu,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan sekadar refleksi pribadi.
Ada rentetan kejadian politik yang membuat Agustus–September 2025 jadi titik balik bagi pemerintahan Prabowo.
Dari Demonstrasi hingga Reshuffle
Akhir Agustus ditandai dengan aksi demonstrasi besar di Jakarta dan Medan dan berbagai daerah lain.
Ribuan mahasiswa dan pekerja turun ke jalan, melampiaskan kekecewaan pada penyelenggara negara.
Bentrok di sekitar DPR RI, Ojol tewas, pengrusakan fasilitas umum dan penjarahan beberapa rumah pejabat jadi sorotan media.
Tuntutan agar sejumlah pejabat negara dicopot atau diganti juga menyeruak.
Situasi ini jelas memberi tekanan pada Presiden.
Sekitar sepekan setelah itu, langkah berani diambil: Menteri Keuangan, Sri Mulyani dicopot dan digantikan Purbaya Yudhi Sadewa pada 8 September 2025.
Perombakan kabinet semakin meluas, dengan sejumlah loyalis Jokowi tersingkir dan figur-figur Gerindra masuk ke jabatan kunci.
Puncaknya, 17 September 2025, menjadi hari reshuffle terbesar sejak awal pemerintahan.
Erick Thohir didapuk sebagai Menpora, Letjen (Purn) Djamari Chaniago mengisi kursi Menko Polkam, sementara posisi strategis lain diisi oleh orang-orang yang berjejak “orbit perjuangan” Prabowo, dari Angga Raka Prabowo hingga Naniek S Deyang. Konsolidasi makin kentara.
Konsolidasi Kekuasaan
Setelah Agustus, peta kekuasaan di Istana berubah drastis.
Gerindra bukan lagi sekadar pemain utama, melainkan pengendali utama.
Beberapa partai koalisi seperti PKB dan PBB tetap mendapat jatah, namun orbit Jokowi dan relawannya ada yang tersisih.
Restrukturisasi Kementerian BUMN pada awal Oktober 2025 mempertegas arah ini.
Dengan berubahnya Kementerian menjadi Badan Pengatur BUMN (BP BUMN), Prabowo menutup salah satu arena politik yang selama ini rawan dijadikan panggung kekuatan lama.
Dari Ragu Jadi Tampil
Jika di awal Prabowo memilih menahan diri dan malu bicara tanpa hasil konkret, kini Ia merasa lebih bebas.
“Berani tampil” bukan sekadar soal retorika, melainkan tanda bahwa Ia sudah memegang kendali penuh dan bisa memamerkan sejumlah capaian kinerja pemerintahannya.
Demonstrasi besar, reshuffle kabinet, dan konsolidasi jabatan kunci menjadikan Agustus sebagai garis pembeda: sebelum dan sesudah kekuasaan benar-benar terkunci di tangannya.
Dengan kata lain, setelah Agustus 2025, Prabowo bertransformasi menjadi pemimpin dengan keberanian penuh untuk menentukan arah.
Sebagian orang masih meyakini, reshuffle masih akan terjadi.[]
(Gambar: Presiden RI Prabowo Subianto dalam acara Munas PKS di Jakarta, September 2025. | PKSTV)














