CARAPOLITIK.COM | Anggota Komisi I DPR RI, Nurul Arifin, menyorot tajam lemahnya kesiapan pertahanan digital di daerah.
Dalam kunjungan kerja reses ke Kodam IV Diponegoro, Semarang, Rabu, 8 Oktober 2025, politisi Golkar ini menegaskan pentingnya penguatan kemampuan kecerdasan buatan (AI) dan sistem pertahanan siber (cyber defense) di tubuh TNI agar bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Dalam pidato Presiden pada Hari Ulang Tahun TNI, beliau menekankan agar TNI mengikuti kemajuan teknologi, termasuk cyber defense dan AI. Ini penting agar TNI tidak hanya sekadar militer konvensional, melainkan juga adaptif terhadap perkembangan teknologi masa kini,” ujar Nurul dikutip carapolitik.com dari siaran Senayan, Jumat, 10 Oktober 2025/17 Rabiul Akhir 1447 H.
Ia menilai, peran TNI saat ini tidak bisa lagi dibatasi pada operasi militer konvensional.
Dunia sudah berubah — ancaman datang dari jaringan digital, bukan hanya dari perbatasan fisik.
Karena itu, TNI dituntut untuk tanggap terhadap perubahan lanskap keamanan nasional.
Nurul juga menyinggung keterbatasan fasilitas dan sumber daya manusia di tingkat daerah yang belum siap menghadapi ancaman siber.
Banyak Kodam, katanya, belum dilengkapi teknologi digital yang memadai untuk melakukan deteksi dini terhadap potensi kerusuhan maupun ancaman sosial.
Menurutnya, pemberian alat sampai tingkat Kodam sangat krusial supaya aparat tidak harus bergantung pada pusat dan mampu langsung melakukan deteksi dini.
Penggunaan teknologi seperti drone juga sangat membantu dalam pengawasan keamanan saat demonstrasi.
Pandangan Nurul menyoroti jurang antara wacana “modernisasi pertahanan” dan realitas di lapangan.
Selama infrastruktur siber dan AI belum menyentuh level daerah, maka modernisasi TNI hanya berhenti pada simbol, bukan kapabilitas.[]














